Autotips

Cinta Keluarga, Cinta MPV

14 Februari, 2018

Image Cinta Keluarga, Cinta MPV

Perkembangan industri mobil di nusantara sudah berlangsung sangat lama, persisnya semua itu dimulai di tahun 1969. Menurut data dari GAIKINDO, industri ini berawal ketika Kemetrian Perindustrian dan Perdagangan membuat aturan mengenai usaha impor kendaraan bermotor yang saat itu tergolong dalam dua kondisi, yaitu utuh (completely built-up) dan terurai (completely knocked-down) atau artinya harus dirakit lagi ketika masuk ke wilayah Indonesia. Peraturan yang dibuat juga meliputi industri perakitan dan peragenan, artinya dalam hal usaha jual-beli kendaraan otomotif.

Tentunya seiring dengan dimulainya bisnis otomotif ini maka bersemi jugalah industri lain yang menjadi pendukung sehatnya pertumbuhan industri otomotif di Tanah Air; warga Indonesia yang memiliki jiwa usaha atau pebisnis mulai merambah usaha pembuatan atau impor suku cadang, bengkel untuk reparasi atau pun pengecatan, penjualan baterai (accu), pom bensin, dan lain-lain yang terus berkembang hingga sekarang.

Bahkan hobi otomotif pun kini banyak yang menjadi ladang bisnis juga; mayoritas pemilik kendaraan bermotor pasti senang dengan kegiatan modifikasi. Namun, terlepas dari bisnis, bagaimanakah wajah tren industri otomotif di Indonesia saat ini? Terlepas dari banyaknya jenis mobil yang beredar di pasar Indonesia, namun ada unsur budaya yang sepertinya membuat kita terpaku pada satu jenis mobil, yaitu MPV.

Multi-Purpose Vehicle adalah mobil yang bisa dibilang paling laris di Indonesia. Segmen ini masih menjadi primadona hingga penghujung tahun 2017, bahkan sebagai pemain baru, Wuling Confero S mampu meraih penghargaan Indonesian Car of the Year 2017 di kategori Small MPV versi MobilMotor. Ini membuktikan bahwa mobil MPV masih menjadi segmen mobil paling menarik di Tanah Air. Namun mengapa begitu?

Alasan terbesar adalah dari sisi kultur atau budaya masyarakat Indonesia. Kita terkenal dengan budaya kekeluargaan yang sangat tinggi, apapun sukunya, pasti kita sering sekali berkunjung ke rumah saudara baik dekat mau pun jauh untuk acara keluarga besar. Momen yang paling sering kita alami bepergian dengan anggota keluarga adalah saat liburan akhir pekan, arisan keluarga, hingga liburan hari raya. Keluarga Indonesia pun umumnya berisi lebih dari 4 anggota keluarga, sehingga pikiran yang sering muncul saat hendak membeli kendaraan adalah: mobil apa yang bisa mengangkut seluruh anggota keluargaku?

Mobil jenis MPV umumnya berisikan 3 deret kursi yang sanggup menampung 8 orang bahkan lebih jika ukuran badan cukup kecil atau harus berpangkuan. Seiring pertumbuhan tren, maka jenis mobil MPV berkursi 7 pun mulai beredar dan Wuling tidak mau ketinggalan melalui Confero Snya. Dengan adanya captain seat di baris kedua membuat Confero S terlihat elegan, berkelas, dan yang paling utama adalah nyaman. Bagi Anda yang memiliki anggota keluarga cukup banyak bisa dipastikan Wuling adalah pillihan yang ideal untuk keluarga Anda.

Berbicara mengenai pilihan ideal, tentunya Wuling tidak ingin berhenti berinovasi dan berkarya untuk Indonesia. Segala bentuk dukungan dari masyarakat Indonesia, membuat 3.000an lebih pekerja lokal ingin terus bekerja dan memberikan pilihan yang cocok untuk warga Indonesia. Jika sebelumnya Confero hadir di segmen low MPV, kini Wuling membuktikan keseriusannya dengan tampil di segmen real MPV dengan menghadirkan Cortez. Cortez yang bercita rasa MPV berkelas ini menghadirkan fitur-fitur yang wajarnya hanya ditemui di kelas mobil mahal. Dan bagi pecinta otomotif yang membutuhkan adanya transmisi otomatis, kini bisa dipuaskan dengan teknologi i-AMT yang secara khusus dikembangkan untuk seri Cortez, bahkan pecinta mobil manual pun semakin dipuaskan dengan implementasi sistem transmisi 6 percepatan.

Lantas, apalagi alasan yang Anda butuhkan untuk menjadikan Cortez pilihan yang tepat? Ikuti terus perkembangan Wuling yang akan memberikan suatu kejutan pilihan baru bagi Indonesia. Salam lima jari!

https://www.gaikindo.or.id/perkembangan/

http://otomotif.liputan6.com/read/3001930/begini-asal-usul-mpv-di-indonesia