Autotips

Mesin Pembelajar

14 Februari, 2018

Image Mesin Pembelajar

Bagi keluarga Wuling yang lahir di sebelum tahun ’90-an [dan lebih tua lagi] pasti masih ingat film futuristik seperti Back to the Future atau Knight Rider; bagaimana mesin-mesin yang diciptakan manusia masa depan bisa sebegitu canggihnya hingga bisa membuat manusia terbang, menjadi robot yang bisa menyerupai manusia, hingga bisa mengemudi tanpa menyentuh setir kendali.

 

Tahukah kamu bahwa kini, memasuki tahun 2018, hal tersebut semakin mungkin terwujud? Kini kita semakin mengenal Siri dan Alexa; Siri adalah asisten suara yang dikembangkan oleh raksasa korporasi teknologi Apple, Inc. yang berbasis di Cupertino, Amerika Serikat. Cara kerjanya cukup mudah—kamu cukup mengucap “Hey, Siri” di depan ponsel genggam iPhonemu maka mesin pun akan menyapamu kembali dan bertanya apa yang bisa dibantu. Dia akan merespon segala macam pertanyaanmu, hingga menghubungkanmu dengan mesin pencari di Internet. Banyak hal yang bisa kamu tanyakan, misalnya harga tiket nonton di bioskop, skor terkini pertandingan sepak bola dari tim favoritmu, hingga hal remeh seperti cuaca hari ini.

 

Alexa memiliki fungsi yang mirip dengan Siri namun lebih terintegrasi dengan benda-benda di keseharian kita. Dia adalah gadis mesin ciptaan Amazon. Iya, Amazon tempat kamu bisa berbelanja daring (dalam jaringan). Bedanya, mereka menanamkan sistem Alexa di alat canggih mereka, contohnya Echo. Dalam wujudnya yang paling sederhana, Echo adalah sebuah tabung pengeras suara. Namun agar Echo dan Alexa dapat bekerja, mesin ini harus terhubung dengan jaringan internet di rumahmu dan terhubung dengan peralatan lain di rumahmu seperti TV, lampu, thermostat (pengukur suhu ruangan), hingga kunci pintu rumahmu. Cara kerjanya mirip dengan Siri, cukup panggil namanya dan berikan perintah maka akan langsung dilaksanakan, misalnya “Alexa, matikan lampu” maka seketika itu lampu yang terkoneksi dengan jaringan internet rumahmu dan Echo akan mati. Tentunya perintah yang kamu sampaikan ke Siri atau pun Alexa harus diucapkan dalam bahasa Inggris, namun tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti bahasa Indonesia pun akan bisa dikenali oleh mesin-mesin ini.

 

Bagaimana sebetulnya mesin-mesin ini bisa secanggih ini? Inilah yang disebut dengan mesin pemelajar atau Machine Learning di istilah aslinya. Algoritma yang ditanamkan para ahli teknologi memungkinkan mesin belajar hal-hal baru layaknya seorang bayi yang sedang tumbuh dewasa. Setiap kalimat yang diucapkan terhadap mesin ini akan direkam ke dalam server yang menjadi otak pusat sistemnya. Menarik sekali kan? Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Teknologi ini mulai dikembangkan dan ditanamkan di alat transportatsi untuk memungkinkan pengaplikasian sistim autopilot. Salah satunya yang berhubungan dengan keseharian kita tentunya adalah mobil.

 

Usaha pengembangannya sendiri sebetulnya sudah mulai dilakukan sejak 1920an, namun baru pertama kali ada hasil nyatanya di tahun 1980an melalui proyek Navlab yang dijalankan Universitas Cernegie Mellon. Kemudian di 2013 barulah ada peraturan negara yang mengizinkan pengoperasian mobil otomatis, yaitu di 4 negara bagian Amerika Serikat; Nevada, Florida, California, dan Michigan. Syarat paling mendasar tentunya adalah bagaimana saat berjalan, mobil yang digunakan tidak akan menabrak atau membuat celaka—maka titik sensorlah yang menjadi salah satu faktor terpenting di dalam pembuatan mobil sejenis ini. Saat berjalan, mobil harus bisa tetap menjaga jarak tidak hanya dengan mobil di depan dan di belakangnya, tetapi juga dengan sekelilingnya seperti pejalan kaki, pengemudi sepeda, gedung atau pembatas jalan di sisi kanan kirinya, dan sebagainya.

 

Lalu teknologi ML tadi juga sudah mulai diimplementasikan ke dalam mobil-mobil masa kini agar kesan futuristiknya semakin terasa—hanya dengan memanggil dan memberikan perintah maka mesin langsung bisa berfungsi dan berkomunikasi dengan manusia/pengendaranya. Jika kamu pernah nonton film seri Knight Rider jaman kecil dulu, pasti kamu masih ingat adegan saat aktornya, Michael Knight (diperankan David Hasselhoff), berbicara dengan mesin mobilnya yang dinamakan KITT. Dengan sebuah kalimat perintah, maka otomatis KITT akan langsung mengerjakannya—misalnya, “KITT, jalan sekarang!” atau “KITT, kebut!” Lantas apa sih untungnya dengan teknologi semacam ini? Beberapa nilai positif misalnya, berkendara akan tetap bisa dilakukan apapun situasi kondisinya; misalnya sedang sakit dan harus ke rumah sakit sendirian, ketika di jalan namun mengantuk, atau sembari berkendara tetap harus membuka laptop untuk bekerja (multi-task) dengan tujuan utama agar hidup kita akan jauh lebih terbantu dan mudah.

Yang bahaya jika mesin-mesin ini nantinya jauh lebih pintar dan mampu mengelabui manusia. Demi kehidupan yang lebih baik kita bisa menyerap dan memanfaatkan sisi positif dari perkembangan teknologi, namun pastikan bahwa kita tidak sampai ketergantungan terhadap kemajuan-kemajuan yang memudahkan hidup kita agar kita tetap bisa selalu selangkah lebih maju.